"Ya Allah, jadikanlah hamba Mu ini mencintai orang beriman dan jadikanlah orang yang beriman mencintaiku."

(HR Muslim)

18 December 2008

Hakikat Sabar.. Fasobrun Jameel ^_*

ASPEK-ASPEK SABAR DALAM AL-QURAN
AL Quran Menyuruh Kita Sabar
Dr Yusof Qardhawi

1: SABAR TERHADAP MUSIBAH DUNIA

Sabar terhadap bencana alam dan himpitan zaman. Ini dialami oleh orang baik atau orang jahat, yang beriman atau yang kafir, pemimpin atau rakyat dipimpinnya, sebab masalah ini sudah merupakan putaran hidup dan masalah manusia. Tidak ada manusia yang bebas dari kesedihan hati, terganggu kesihatan tubuhnya, ditinggal mati orang yang paling dicintai, kerugian harta, gangguan manusia lain, kesulitan hidup atau musibah bencana alam. Hal ini telah dinyatakan Allah dengan disertai sumpah:

"Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Iaitu) orang-orang yang apabila ditimba musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi wa rajiun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 155-157)

Sabar seperti itu tidak banyak disedari oleh manusia. Dalam al-Quran diberikan contoh sabar Nabi Ayub dalam menanggung penderitaan sakit dan kehilangan anggota keluarganya. Sabar Nabi Yaaqub berpisah dengan dua orang puteranya (Yusuf dan saudaranya), dan dusta serta tipu muslihat anak-anak kepadanya. Contoh-contoh nabi-nabi yang sabar dalam al-Quran akan kami huraikan dalam buku ini pada bab tersendiri.

2. SABAR TERHADAP DORONGAN NAFSU

Dorongan dan tuntutan nafsu merupakan kesenangan manusia. Seperti kenikmatan dan kesenangan duniawi, keindahan perhiasan dunia dan nafsu seksual. Di sebalik itu syaitan menyulamnya dengan keindahan.

A. Sabar Menyangkut Kesenangan Hidup

Aspek sabar yang menyangkut kesenangan dan kemewahan hidup yang mendatangi dan merayu seperti perayu yang cantik jelita lagi mempesona. Ini merupakan cubaan jenis baru, kerana ia datang mengunjungi manusia dengan kesenangan, kekayaan dan kemewahan hidup.

Firman Allah:

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (yang sebenar-benarnya)." (Al-Anbiya: 35)

Firman Allah:

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: Tuhanku menghinakanku." (Al-Fajr: 15-16)

Allah SWT baik dalam memberikan kemuliaan dan kesenangan ataupun pembatasan rezeki merupakan ujian cubaan. Orang-orang yang arif berpendapat orang mukmin dapat bersabar terhadap musibah, tetap yang dapat bersabar terhadap gangguan penyakit hanyalah orang-orang siddiq.

Ketika pintu-pintu dunia telah Allah bukakan bagi sahabat Rasulullah saw, di antara mereka ada yang berkata (dengan cemas): "Kami telah diuji dengan kesulitan dan kami bersabar, dan kami sekarang ini diuji dengan kesenangan tetapi kami tidak bersabar." Allah SWT berpesan kepada hamba-hamba-Nya terhadap fitnah harta, anak, isteri dan nafsu dunia seluruhnya.

Firman Allah:

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cubaan (bagimu)." (Al-Taghabun: 15)

Firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingati Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al-Munafiqun: 9)

Firman Allah:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga). Katakanlah: 'Inginkah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertaqwa (di sisi Allah), pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keredhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Ali Imran: 14-15)

Allah SWT menggambarkan hamba-hamba yang bertaqwa dengan firman-Nya:

"Iaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 17)

Imam Al-Ghazali berkata bahawa lelaki yang kuat ialah yang sabar di waktu sihat, tidak bergantung pada kesihatan tubuhnya saja. Dia menyedari bahawa kesihatan itu merupakan amanah dan suatu saat akan terlepas dari dirinya. Oleh itu janganlah mensia-siakannya dengan berfoya-foya, terjerumus dalam kenikmatan dan kelazatan, bermain-main dan bermewah-mewah. Orang yang sabar harus memelihara hak-hak Allah dalam hartanya dengan berinfak, menolong orang lain, lidahnya dengan berbicara benar dan dalam segala kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya (Ihya Ulumuddin jilid I hal. 69).

B. Sabar Untuk Tidak Melihat Kekayaan Orang Lain

Ada aspek lain berupa sabar terhadap kesenangan dan keindahan hidup duniawi, iaitu sabar untuk tidak melihat dan menoleh kepada kesenangan hidup dan kekayaan orang lain serta keinginan memperolehi kenikmatan harta dan anak yang mereka miliki, sedangkan mereka itu orang yang angkuh dan menyeleweng (rasuah). Kemewahan hidup orang-orang yang angkuh dan menyimpang itu meskipun pada lahirnya nampak suatu kenikmatan, pada hakikatnya merupakan penderitaan dan seksaan.

Firman Allah:

"Apakah mereka mengira bahawa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (bererti bahawa), Kami bersegera memberi kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sedar." (Al-Mukminun: 55-56)

Dalam hal ini Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw:

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bitnga kehidupan dunia untuk Kami cubai mereka dengannya. Dan kurnia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (Thaha: 131)

Seorang mukmin sejati merasa diri mulia dan terhormat dengan pemberian nikmat hidayah iman dan taufik untuk taat patuh kepada Allah SWT. Dia menyedari bahawa harta itu sebenarnya maya dan merupakan bayangan yang akan lenyap, amanah yang akan diambil kembali oleh pemiliknya.

Dia tidak peduli dengan kehebatan kehidupan dan keindahan lahiriah yang dimiliki para jutawan, kaum bijak pandai dan penguasa. Hal ini pernah dikisahkah al-Quran ketika orang-orang dari kaum Nabi Musa melihat penampilan Qarun di hadapan mereka dengan kemewahan, keindahan dan kemantapan dan diiringi rombongannya dengan megah. Orang-orang yang terpikat oleh kesenangan hidup dunia berkata dengan nada penuh harap dan hasrat yang penuh:

"Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (Al-Qasas: 79)

Sedangkan orang-orang yang berilmu, beriman, berakal dan sabar berkata:

"Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar." (Al-Qasas: 80)

C. Sabar Terhadap Dorongan Nafsu Seksual

Ada juga aspek kesabaran terhadap dorongan syahwat terutama syahwat seksual yang diakui kekuatan dorongannya oleh Islam dan merupakan salah satu kelemahan manusia dalam menghadapinya.

Islam mensyariatkan nikah dan membolehkan laki-laki mengahwini hamba-hamba wanita yang beriman apabila tidak mampu mengahwini wanita-wanita yang merdeka. Di sini Allah memberi keringanan, kerana manusia diciptakan memiliki kelemahan. Walaupun dibolehkan mengahwini wanita budak yang mukminat. Al-Quran menganjurkan agar bersabar kerana akibat perkahwinan itu akan lahir anak yang berstatus hamba.

Firman Allah:

"(Dibolehkan mengahwini hamba) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesukaran menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisaa: 25)

Maksud sabar di sini adalah sabar menahan dorongan syahwat seksual meskipun dalam perkara yang halal. Dan bagaimana halnya dengan perkara yang haram? Dalam perkara yang haram sabar atau menahan diri hukumnya wajib (fardhu).

Firman Allah:

"Dan orang-orang yang tidak mampu berkahwin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia Nya." (An-Nur: 33)

Contoh kesabaran dalam hal ini yang paling baik dalam al-Quran adalah Nabi Yusuf As-Siddiq as yang telah menolak rayuan isteri ketuanya.

D. Sabar Untuk Tidak Marah dan Dendam

Ada juga aspek kesabaran menahan diri dari marah-marah, dari membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang sama atau pembalasan yang lebih kejam. Sekali tamparan dibalas dengan berkali-kali pukulan dan sekali cacian dibalas dengan puluhan caci maki dan sumpah seranah.

Firman Allah:

"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan seksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar." (An-Nahl: 126)

Firman Allah:

"Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (Asy-Syura: 41-42)

Contoh kesabaran seperti ini iaitu peristiwa anak Nabi Adam (Qabil) yang mengancam untuk membunuh saudaranya (Habil) tetapi saudaranya menjawab:

"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam." (Al-Maidah: 28 )

0 leaves:

aSkiNg sOuL

Feeling alone?
Innallahha ma’ana

Saw evil act?
Inni akhafullah

Wishing something?
Fa’iza ’azamta fatawakkal’alallah

Missing somebody?
Ma fi qalbi ghairullah.

... syukran ...

Free Hit Counter Syukran 'ala ziarah ^_~

Silent Home

Silent Home
Bila emosi mengunci hati, lalu lahirlah ayat-ayat sepi sebuah monologku merentasi perjalanan menuju Rabbi :)

  © Template Lar Doce Lar por Emporium Digital Graphics Jenny's Grandchild and Irene's Corner

TOPO