"Ya Allah, jadikanlah hamba Mu ini mencintai orang beriman dan jadikanlah orang yang beriman mencintaiku."

(HR Muslim)

24 September 2010

Untukmu... Cinta!

Bismillahirrahmanirrahim.

Sesekali disapa angin rindu, dihelus dengan hembusan bayu menambahkan lagi sakit kerinduan pada ranting-ranting hati. Sakit itu membuatkan jiwa duduk merenung dan terus berfikir, apakah kerinduan ini mungkin terubat dengan menatap wajahnya? Haruskah ku biarkan kelopak mata ini basah demi melepaskan belenggu yang melingkari...

Terkadang langkah kaki ini laju menyusuri denai-denai perjalanan, adakalanya tersusun rapi pada sebuah perjuangan kehidupan. Namun, pada waktu yang berputar dan berubahnya siang malam ku membuatkan bintang-bintang itu seringkali terasa jauh dan begitu sukar untuk digapai. Jalan ini bukan semudah kata penyedap bicara, jalan berduri penuh dengan liku dan ujian yang berbeza. Menyerah bukan sakti seorang srikandi.

Andai jalan pulangku berliku, mohon restu dari Yang Satu agar ditunjukkan jalan kebenaran. Andai jalan pulangku jauh tidak berwaktu, mohon pertolongan dari yang Esa agar tidak membiarkan kesunyian ini merobek-robek tangkai hatiku. Biarlah sesekali sakit itu membuatkan aku termenung dan terus menyapa pada sang bayu yang menemani sang beburung bercicip bahagia di dahan pohonan.

"Wahai angin, sampaikan salam rinduku untuknya..."

Andai pesan ini sampai ke pemilik yang dirindu, moga hatiku terus dibuai rasa yang tidak berkesudahan. Biarlah segar merindu bagai pungguk rindukan bulan dari mematikan atma yang berlagu pilu, harus melayani geselan gemalai tarian perasaan andai itu penawar yang ku punya pada saat ini. Biarlah... Biarlah... Melayani membuatkan daku terasa disayangi.

"Wahai bintang, bersinarlah di sana... Ingin ku gapai tak sampai."

Usahlah menghilang si sebalik awan, bimbang rinduku menusuk rongga hingga terbeban tak terkata. Kala bebintang menyinari gelapnya zulumat malam, hati seakan menari riang ditemani cahaya-cahaya kecil yang kerinduan. Pada bulan yang menyinar di hujung dunia, sesekali terasa bulatnya harapan bersama terangnya cahaya. Ah... Masakan pungguk tidak merindukan bulan, bias cahayanya saja mampu mendodoi lentok hati yang gusar.

"Wahai bulan, duduklah di sana..."

Cintaku akan menatap cahayamu dari hujung sana dan aku akan melihat bias cahayamu di sini. Jauh tidak berjarak, rindu tidak terkata namun hatiku masih bisa bergetar saat kalam-kalam Ilahi menerobos di gegendang telinga. Alhamdulillah, cinta pada indahnya ciptaan Nya adalah lambang ekspresi takjubku pada Ilahi. Masya Allah.

Lidahku tidak bertulang, bermain kata menyusun bahasa namun perasaanku turut sama hiba dalam langkah kaki yang tertahan rasa. Biar kudratku lemah menghempas derita namun untuk cintaku, segalanya akan ku pertahankan. Biar jasadku longlai menghadap badai namun tidak ku biarkan pantai hatiku turut berubah mengikut tersungkurnya ombak di atas pantai.

Lalalala... Lalalala... Lalalala...

Akan ku usir perasaan gundah ini, bukan kerana marah pada lara yang menyinggah tetapi bimbang langkahku akan merebahkan jasad ini dari jalan tarbiyyah Rabb.



Allah yang memberi ujian, Dia akan memujuk dengan cara dan kehendak Nya. ^_^

Hanya Tuhan Yang Tahu,
Insyirah Soleha

7 leaves:

Afiqah Rahman 24 September 2010 at 13:39  

Rindu itu adalah
Anugerah dari Allah
Insan yang berhati nurani
Punyai rasa rindu
Rindu pada kedamaian
Rindu pada ketenangan
Rindukan kesejahteraan
Dan juga kebahagiaan
Orang-orang yang bertaqwa
Rindu akan kebenaran
Kejujuran dan keikhlasan
Keredhaan Tuhannya
Orang mukmin merindukan
Anak-anak yang soleh
Isteri-isteri solehah
Keluarga bahagia
Para pencinta kebenaran
Rindukan suasana
Masyarakat yang terjalin
Aman dan sejahtera
Merindukan tertegaknya
Kalimah Allah di muka bumi
Dan dalam merindukannya
Keampunan Tuhannya
Dan seluruh umat itu
Merindukan cahaya
Yang menyinari kehidupan
Rindu pada Tuhan

- Hijjaz - (^_^)

syauqah wardah 24 September 2010 at 13:40  

comel teddy bear, just like U.. tp cayang, tak yah la nanges cam teddy bear tu ea, kang pipi akak bucuk tukar jadi pink colour... hehe..

kak amami 24 September 2010 at 13:48  

assalamu'alaikum adik insyirah mawar merah ~:)

dah lame sangat2 tak singgah blog ni,ape khbr ye?:)
didoakan mg sihat sllu dan sntsa di bawah lindungan dan rahmat Allah :)

hadiee 25 September 2010 at 16:02  

Smoga sentiasa gembira didalam kehidupan anda. amiin

ummu muhammad 26 September 2010 at 21:49  

salam dik..
indah tersusun kata2,cantik sungguh!..Alhamdulillah, Allah mmberi idea dan bakat tulisan pd adik..kaif hal?hanya doa mampu akak hulurkn dlm apa jua situasi adik..syafakillah dan smg Allah merahmatimu..

nurIslami,  27 September 2010 at 20:47  

assalamualaikum:

entri Puan Insyirah kali ini benar-benar mencabar kefahaman saya untuk memahaminya..

berkali-kali juga saya membaca untuk memahaminya..(sambil mengelap peluh yang tidak kelihatan di dahi)

Insyirah 27 September 2010 at 22:28  

NurIslami :

Wa'alaikumussalam warahmatullah.

Oh, biasalah. Anda perlulah berkahwin dahulu untuk memahami apa yang mahu disampaikan ^_^

Oh tidakkkk... sulit untuk memahami jiwa ini, lantaran itu ignore je lah nanti makin banyak peluh yang menitik :D

aSkiNg sOuL

Feeling alone?
Innallahha ma’ana

Saw evil act?
Inni akhafullah

Wishing something?
Fa’iza ’azamta fatawakkal’alallah

Missing somebody?
Ma fi qalbi ghairullah.

... syukran ...

Free Hit Counter Syukran 'ala ziarah ^_~

Silent Home

Silent Home
Bila emosi mengunci hati, lalu lahirlah ayat-ayat sepi sebuah monologku merentasi perjalanan menuju Rabbi :)

  © Template Lar Doce Lar por Emporium Digital Graphics Jenny's Grandchild and Irene's Corner

TOPO