"Tidak ada anugerah yang lebih baik selain peroleh sifat sabar." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Al-Nawwas b Sam'an r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda, mafhumnya: "Kebajikan itu adalah pada keelokan akhlaq. Manakala dosa kejahatan adalah apa yang mendatangkan resah pada dirimu dan engkau tidak suka manusia lain melihat atau mengetahuinya." - (HR Muslim)
Showing newest posts with label ~ cerpen ~. Show older posts
Showing newest posts with label ~ cerpen ~. Show older posts

09 March 2010

Senandung Buat Mujahidku

AmiR SyuHaDa


~ gambar hiasan ~

"Dia tetap hidup, aman dalam lena panjangnya. Tersenyum melihat rezeki yang tiada ternilai, sedang berterbangan di dada beburung."


Untuk pertama kalinya dia tumpahkan airmata kesedihan saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya dia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama dia mengenal kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya.

Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat dia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putera mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang memberitahu tentang kesyahidan ayahnya.


Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah dia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu dia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihad yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya.

Dia masih mampu bertahan untuk tidak menangis saat pembantaian Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putera tercintanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun dia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini.


Kata-kata pemuda tampan dihadapannya telah mengikis kekukuhan benteng pertahanannya. Dicubanya untuk mengelak dan memujuk hatinya, bahawa yang didengarnya beberapa minit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi susuk di depannnya teramat nyata untuk dia mengingkarinya. Amir Syuhada, pemuda tegap didepannya itu, satu-satu puteranya, kembali mengulang kata-katanya, "Bonda, izinkan anakanda pergi berjihad". Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia takkan mungkin sanggup menahan gelora itu.

Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan esak yang satu persatu saat keluar. Terasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya pemergian suaminya. Dia masih menyimpan sedikit harapan bahawa suaminya akan kembali, meskipun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai
dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, kerana dia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "Jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu ertinya, dia harus menguburkan seluruh harapan akan kembalinya puteranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun.

"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama puteranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia kerana memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat kerana memimpin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang", begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti.

Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa bujangnya dengan membina rumahtangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah buruknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang puteranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabel-kabel di sana sini dan beberapa
bungkusan aneh yang baru kemudian dia tahu berisi bom. Esaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairan bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan.

Amir pun terdiam mematung. Ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan tua itu dan digenggamnya penuh perasaan sambil berucap, "Bonda, anakanda lakukan ini kerana anakanda ingin merealisasikan apa yang selama ini menjadi doa bonda terhadap anakanda."


Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar pertuturan anaknya, tapi dia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bonda yang setiap malam berdoa agar anakanda menjadi anak yang soleh? Inilah anakanda yang berusaha mewujudkan harapan bonda. Bukankah bonda selalu menasihati anakanda untuk sentiasa istiqamah memegang panji dakwah ini, dan sentiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan?

Bukankah bonda selalu mengingatkan bahawa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkannya dalam dirinya, bahawa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahawa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahawa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bonda yang ber
ulangkali mengatakan hal itu? Inilah anakanda Amir yang berusaha menjalankan nasihat Bonda."

Amir mencuba untuk tetap tersenyum, tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil dia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdoa agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi.

Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bonda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "Siapa yang mahu mati? Bonda tentu masih ingat, bagaimana ketika anakanda masih berusia 7 tahun. Jika anakanda menangis, Bonda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bonda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahawa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezeki.
Bonda, anakanda berjihad bukan untuk mati, tapi anakanda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi."

"Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas.

"Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bonda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sedar dengan siapa dia berbicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bonda?" tanpa menunggu jawapan, Amir melanjutkan.


Ya ummi, aina syabab???

"Bonda.., Bonda tentu masih ingat ketika anakanda masih kecil, bonda yang selalu mengiringi tidur anakanda dengan senandung jihad. Bonda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada anakanda, Bonda yang telah menyalakan api revolusi itu dalam jiwa anakanda. Kini hantarkanlah anakanda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, izinkan anakanda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bonda, masih ingatkah Bonda akan senandung Khubaib bin Ady r.a. saat menjelang digantung orang-orang kafir Quraisy?"

Sekiranya Allah menghendaki keberkahan dengan menghancur lumatkan tubuhku aku takkan peduli, asalkan aku mati sebagai muslim untuk Allah lah kematianku pasti.


"Sungguh Bonda, jika tegaknya kalimah Allah di bumi ini harus dibayar dengan carikan- carikan tubuh anakanda, anakanda tidak akan pernah mundur. Bonda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika dia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bonda, anakanda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan anakanda menepati janji."

Sejenak ruang itu hening. Esakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicubanya untuk terakhir kali memujuk puteranya, seperti mengingatkan dia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?"

Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bonda, sekian lama anakanda belajar tentang erti sebuah cinta. Dan anakanda telah menemukan, bahawa cinta y
ang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama anakanda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bonda, anakanda tidak ingin kehilangan kesempatan."

Diucapkannnya kalimat terakhir dengan nada yang tegas.


Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tegap di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahawa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyedari sejak lama, bahawa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia tahu tak seharusnya mencegah impian puteranya. Amir bukan lagi kanak-kanak kecil yang boleh dipulas telinganya kalau nakal, atapun dipujuk dengan sepotong kuih agar tidak menangis.

Amir kini telah membesar menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya tapi dia merasa begitu berat untuk memujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktiviti HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencuba meyakinkan hatinya, bahawa Amir bukanlah miliknya.


Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi dia sama sekali tidak berhak mementingkan keinginannya. Benar dia telah menyerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, kerana jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini sedang dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tentangannya.

Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan Nya busur itu dengan kekuasaan Nya hingga anak panah itu meluncur jauh dan tepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang meluncur laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharusnya bangga kerana benih yang dia tanam dengan senandung-senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah.

Tidak, dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah as-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana.


Perlahan tangan tuanya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencuba untuk tersenyum, ya, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau risaukan bonda. Simpan kesedihan dan derita bonda jauh disudut hatimu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untuk meraih redha Allah. Pacakkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan carikan tubuhmu ia akan tertegak, bonda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bonda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putera tunggal, zuriat yang ditinggalkan oleh as-syahid suaminya. Wanita itu tak lagi menangis.

Dilepaskannya pemergian puteranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tegap berjalan menghampiri sebuah pos tentera Israel. Tanpa sebarang kata-kata, Boommm..!!, tubuh pemuda itu meledak menghantar menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berebut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tampan dengan pakaian pengantin dari syurga tampak berbahagia.

Selepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap-hendap, mengetuk pintu sebuah pondok dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid petang tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dipesankannya menjelang berangkat."

Lelaki itu memberikan sebuah mushaf mungil di tangannya. Wanita tua mendakap mushaf itu didadanya, seperti ia mendakap Amir semasa kecil sewaktu tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar puteranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin.


Bonda...,

Kau ucapkan selamat tinggal,

Tatkala aku berangkat berjihad,

Dan kau katakan padaku,

Jadilah singa yang mengamuk meraung,

Kemudian aku berlalu,

mencatat segala pembataian dengan darahku,

Bonda jangan kau bersedih,

Kini belengguku berat Bonda,

Namun... kemahuanku tak terkalahkan,

Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku,

Aliran letrik tak kuasa menyengatku,

Bonda jangan bersedih,

Goncanganku akanku jadikan pintu jahim,

Yang meledak menghentam para musuh,

Betapapun kuatnya belenggu,

Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku,

Bonda jangan kau bersedih,

Bersabarlah Bonda,

Jika tiada lagi pertemuan,

Dan semakin panjang malam mencengkam,

Maka esok kita kan hidup mulia,

Di atas negeri kita sendiri,

Bonda... jangan kau bersedih.

"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah kerana Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahawa musuhmu telah meraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yang Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah." (As-Syahid Hasan al-Banna)


Anak-anak Gaza mencari sesuatu untuk mengalas perut di sebalik timbunan sampah.
"
Mereka memenuhkan perut-perut tanpa mempedulikan nasib kita."

"Saya mengagumi seorang pemuda kerana keberanian dan kemahirannya dan saya mengagumi seorang pemudi kerana adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama." (Mustafa Lutfi al-Manfalut)

Catatan asal oleh Ibn al-Haramain, disunting oleh Insyirah.

Mahu menyimpan catatan ini buat bakal-bakal mujahidku, semoga dari rahim sempit seorang ibu akan melahirkan anak-anak yang sentiasa tangkas berjuang di medan amal Islami. Rabbi yassir wala tu'assir :)

* frasa berangan tahap gaban *

Read more...

17 February 2010

Cinta Surah Yaasin

* Dedikasi kepada yang tabah dan sabar, moga Allah menyinari iman dan taqwa membaluti sekeping hati dan kejayaan dunia akhirat untukmu. Insya Allah *

"Furqan, Angah nak balik kampung. Adik sakit tenat."

Saat mata terpejam rapat, melelahkan badan yang kepenatan seharian mengerah kudrat badan dan otak. Di saat bulan sedang bercanda bersama bebintang, sapaan Taufiq mengganggu lena yang baru saja dirasa.

"Apa?" Dalam keadaan separa sedar, terpinga-pinga melihat sahabat di hadapan mata dengan muka cemas dan sedang menangis. Oh, sahabat! Kamu menangis?

"Adik... Thohirah, sakit tenat. Angah nak balik sekarang."

Innalillahi wainna ilaihirajiun.

"Angah, kau nak drive sendirian? Sekarang jam berapa?" Soalan demi soalan dilontarkan, terasa membugar kepalanya. Berdesing mendengar khabar Thohirah.

"2 pagi, ibu talifon 10 minit lepas. Angah baru mandi ni, bagi fresh sikit nak drive long distance." Mata Taufiq lesu. Hatinya sedang rawan.

"Aku temankan, tapi Angah la yang drive. Aku penat sangat ni... Boleh la buat teman bersembang. At least, boleh tahan mengantuk." Furqan menghulur bantuan, bantuan semangat.

"Tak payah la, susahkan kau je. Kau baru sampai, nak long distance lagi. Angah boleh drive, insya Allah. Angah nak bagitahu kau je ni, nanti kau ingat Angah ghaib pula tiba-tiba hilang pagi buta macam ni."

Furqan tersenyum.

"Mengada lah kau Angah! Macam la semalam baru kenal. Tunggu sekejap, aku mandi bagi fresh dulu. Takut-takut, keluar pintu pagar aku ghaib menuju ke bintang, Angah drive sorang sampai kampung. Sementara aku mandi, Angah solat hajat dulu, kalau sempat baca Yaasin untuk Thohirah." Furqan bangkit dari duduk. Bingkas ke bilik mandi.

Hati Taufiq berlagu sepi...

"Ya Allah, bantulah Thohirah dengan ujian Mu. Seandainya sudah sampai waktunya, permudahkanlah ya Allah, seandainya masih panjang lagi usianya maka Kau bantulah ya Allah..."

"Yaasin..."

tit tit...

"Angah, jangan drive laju. Pandu hati-hati dan banyakkan istighfar."

Deraian air mata jatuh lagi, Thohirah semakin lemah. Sempat ayah menitip pesan, baru satu ayat di baca. Mesej kedua sampai ke kantung inbox.

"Angah, semoga selamat sampai..."

Sebelum meneruskan bacaan, mesej ditaip kepada ayah supaya tidak gelisah.

"Insya Allah ayah, Angah akan balik dengan Furqan. Doakan kami."

Selesai membaca surah Yaasin, Furqan muncul dari dapur dengan satu tumbler air kopi.

"Minum dulu. Aku drive dulu ya, nanti aku dah tak larat Angah sambung drive." Furqan memahami gelora hati sahabatnya, sudah 9 tahun mereka bersama. Dalam pincang mengurus emosi, bimbang tidak mampu rasional ketika memandu. Sementelah pagi masih muda, biarlah Furqan saja yang memandu.

"Terima kasih Furqan, Angah hargai sangat bantuan ni."

Sepanjang perjalanan, Angah masih berlagu surah Yaasin dan hati Furqan juga turut sama mendoakan Thohirah. Bila Angah berhenti, Furqan menyambung bacaan. Gara-gara Thohirah, Furqan juga sempat menghafaz surah Yaasin.

Setelah memandu 6 jam 30 minit perjalanan, hanya berehat 30 minit untuk menunaikan tanggungjawab sebagai seorang muslim di hentian rehat, solat Subuh paling syahdu buat dua insan bersahabat. Akhirnya mereka berdua tiba di kampung halaman Taufiq.

"Furqan, kau tahu... Angah sayang Adik lebih dari segala-galanya, Adik umpama nyawa Angah. Sebahagian hidup Angah adalah Adik... Angah tak tahu bagaimana untuk Angah lalui ujian, kalau Adik..." rawan di hati, sebak di wajah dan... sukar sungguh melafazkan kalam tersebut.

"Angah, kena sabar banyak-banyak. Istighfar. Insya Allah, Thohirah seorang yang kuat. Kalau kita lemah, macammana nak bantu Thohirah? Kalau Thohirah kuat, kenapa kita yang perlu mengalah. Insya Allah, istighfar banyak-banyak moga Allah tenangkan hati Angah."

[Sesuci Thohirah]

"Assalamu'alaikum..." Angah memberi salam, dipeluk ibu yang sedang menanti dengan sabar. Di cium ayah yang sedang tersenyum lemah.

"Macammana dengan Adik?" Taufiq memandang wajah ibu dan ayah. Masing-masing kepenatan, barangkali tidak tidur semalaman.

"Adik, ada di bilik."

Kelihatan Opah dan keluarga terdekat sedang membaca Yaasin di ruang tamu.

'Teruk sangatkah kondisi Thohirah? Mungkin sudah hampir waktunya...' Hati Furqan monolog kecil. Melihat saudara mara semuanya sedang berlagu sendu, ada yang masih menyeka wajah lesu, ada yang bermata merah.

'Ya Allah, kuatkanlah hati-hati kami dengan ketentuan Mu.'

Furqan segera ke kamar mandi, mengambil wuduk dan masuk ke kamar Taufiq. Sudah diminta keizinan awal menumpang kamar Taufiq, solat Dhuha dan solat Hajat. Terasa sayu benar ruang hatinya melihat suasana sepi di rumah keluarga sahabat akrabnya. Selesai mengangkat tangan, berdoa kepada Pemilik nyawa... al-Quran di sisi katil diambil, surah Yaasin dibaca lagi. Untuk pagi ini saja, tidak tahu sudah berapa kali dibaca Yaasin buat Thohirah.

"Andai sudah waktunya, permudahkanlah ya Allah... kiranya belum, bantulah dia ya Allah..." Hanya itu yang berulang kali dilafazkan.

Untuk kali ke-4 bacaan Yaasin buat Thohirah, Taufiq masuk ke bilik.

"Furqan..." Taufiq memeluk erat sahabat di depannya.

'Ya Allah, tenangkanlah hati kami berdepan dengan ketentuan Mu...' sebak di hatinya melihat sahabat berkeadaan begitu. Erat dakapan dari Taufiq, tidak pernah sekuat dan selama itu Taufiq mendakapnya. Pasti lautan hatinya sedang bergelora dengan ombak besar hingga tiada kata yang dilafazkan, hanya pelukan erat melepaskan apa yang terbuku.

"Adik... tenat sangat."

Furqan keluar dari bilik, berjumpa dengan Pakcik Alias.

"Pakcik, boleh saya bercakap dengan Pakcik?"

Pakcik Alias kelihatan lemah. Senyuman masih dilempar pada tetamu yang bertandang.

"Ada apa Furqan?"

"Boleh kita bercakap di luar?"

Pakcik Alias membontoti langkah Furqan. Di beranda halaman rumah, pada kerusi yang tersedia, Pakcik Alias melabuhkan punggungnya. Anak muda di hadapan mata direnung.

"Furqan nak cakap apa?"

"Saya nak kahwin dengan Thohirah."

"Furqan! Kau gila...!" Tiba-tiba Angah muncul dari belakang.

Berderau darah Furqan, terasa minyak panas menyimbah mukanya. Bagai peluh jagung dari hujung rambut ke hujung kaki disergah begitu.

"Kau gila Furqan, Thohirah tenat... Kau berjenaka?"

Furqan memandang tepat pada wajah Taufiq.

"Angah, aku dah lama menyimpan perasaan pada Thohirah. Tapi aku tak tahu nak cakap macammana sebab aku tak nak nanti Angah anggap aku ambil kesempatan dalam persahabatan kita."

Pakcik Alias terkejut, hanya diam. Tidak sepatah yang dibicarakan.

"Sejak bila kau suka pada Adik? Aku tak sangka... Kau..." Taufiq terasa mahu melepaskan genggaman eratnya tepat di muka Furqan biar jadi seperti lempeng.

'Kurang ajar punya kawan, patut kau sanggup teman aku. Nak tolong konon!' Hati Taufiq panas. Bagai gunung berapi menanti saat untuk meledak.

"Astaghfirullah hal azhim..." Cepat-cepat Taufiq istighfar.

Pakcik Alias bingkas bangun meninggalkan Taufiq dan Furqan. Biar mereka menyelesaikan pertikaian.

Furqan serba salah melihat reaksi Pakcik Alias yang terus hilang dari pandangan.

"Sanggup kau buat Angah macam ni. Angah anggap kau macam keluarga..." Taufiq melempar pandangan jauh ke sawah. Furqan anak yatim piatu, hanya dibesarkan di rumah anak yatim dan kehidupannya menjadi cerah kerana Furqan seorang yang pintar, biasiswa pengajian dari kerajaan menerbangkan Furqan ke luar negara.

"Angah. Dah lama aku pendam, 1 tahun setengah. Aku sentiasa cuba tapi aku takut... Aku sayangkan persahabatan kita." Furqan cuba berlembut.

"Sejak bila kau suka Thohirah?" Taufiq masih bertanya. Jawapan 1 tahun setengah itu tidak cukup.

"Aku ternampak blog Thohirah masa Angah online, aku hafal link dan aku selalu baca blog dia... Aku juga selalu komen dalam blog Thohirah menggunakan nama وردة." Furqan menelan airliur.

"
وردة?"

"Iya, mawar. Thohirah tak pernah kenal aku. Dia sangkakan aku seorang perempuan." Bertemakan profile jambangan mawar merah dikelilingi jambangan mawar putih. Tidak lain menterjemahkan watak seorang perempuan.

"Angah juga menyangka
وردة perempuan. Dan, Angah baca komen-komen dari وردة."

"Jujur, aku tertengok gambar Thohirah dalam notebook Angah." Furqan meluahkan lagi satu perkara yang dirahsiakannya, Taufiq menggenggam tangannya.

"Sanggup kau...?"

"Tapi... Thohirah berniqab. Aku tak pernah melihat mukanya." Furqan jujur.

Tiba-tiba Pakcik Alias kembali dengan sedulang air teh.

"Jangan bergaduh, duduk dan bercakap elok-elok. Maaf, pakcik sangat terkejut." Masih melemparkan senyuman pada Furqan.

Furqan jadi bersalah. Pakcik Alias lalu bercerita tentang kisah Hanzalah, bagaimana seorang isteri rela melepaskan suaminya untuk berjuang. Di hujung cerita panjangnya, Pakcik Alias merenung kedua anak muda di hadapannya lalu matanya tepat menembak ke arah anak mata Furqan.

"Furqan sanggup kahwin untuk ditinggalkan?"

Furqan tertunduk, matanya tidak mampu lagi menahan air mata. Terasa bagai dipanah halilintar.

"Saya terpikat bukan pada rupanya, tetapi pada santunnya. Saya tak pernah melihat Thohirah."

Pakcik Alias bangun dari duduknya.

"Mari, ikut pakcik. Angah duduk sini."

Furqan bangun perlahan, langkahnya juga rapuh. Langkah Pakcik Alias dituruti.

Tiba-tiba...

"Subhanallah." Jantungnya berhenti mengepam. Dunia jadi kelam.

"Ini Thohirah." Pakcik Alias masih berlagak tenang.

"Pakcik..." terasa suaranya tersekat di celah kerongkong, hanya angin yang keluar tanpa irama yang berdendang.

"Kalau Furqan boleh menerima keadaan Thohirah begini, pakcik sanggup kahwinkan Furqan sekarang." Pakcik Alias mengusap lembut belakang Furqan. Biar Furqan membuat perhitungan, lihat sendiri mawar pujaannya dalam keadaan paling 'hodoh' supaya tidak terkejut kira halal untuk disentuh.

Entah bagaimana datang rasa hati untuk menerima kata-kata Pakcik Alias. Dengan penuh serabut, perkahwinan itu terjadi antara Thohirah dan Furqan. Taufiq sudah sejuk hatinya, tidak lagi mengepal buku lima. Bersaksikan semua yang hadir, akad nikah berlangsung.

"Assalamu'alaikum..." Furqan memberi salam. Thohirah tidak lagi mahu membuka mata seperti sebelum Furqan memasuki kamarnya, mungkin hatinya dipagar rasa malu dilihat begitu oleh seorang lelaki.

Taufiq memegang pergelangan tangan adiknya, pandangannya pada ibu dan ayah lalu air matanya membasahi pipi. Terlalu syahdu untuk dirakamkan memori pilu ini.

Furqan mengangkat kepala Thohirah. Sedikit mata Thohirah terbuka, senyuman terukir dari bibir Thohirah.

"La ila ha illallah..."

Taufiq membisikkan kalimah tauhid pada telinga adiknya.

"Yaasin..." Hanya itu yang keluar dari bibir Thohirah bagai desir angin tanpa irama. Sekali lagi, entah kali ke berapa Furqan membacakan Yaasin buat Thohirah. Kali ini, dibisikkan ke telinga Thohirah dan bibir Thohirah setia mengikut kalimah-kalimah yang dilafazkan oleh Furqan. Sehingga kali yang ke-3, Thohirah seakan sedang enak tidur. Mukanya tenang, dadanya juga begitu, perutnya tidak lagi bergerak.

"Masih bernadi... Kakinya dah sejuk!" Furqan melirih nadi pergelangan Thohirah.

Terasa nadi semakin jauh jaraknya, pada satu nadi ke satu nadi semakin lemah.

"La ila ha illallah..." Furqan mengangkat kepala mawar pujaannya, tanpa sedar air matanya menitis di atas kelopak mata Thohirah. Pakcik Alias dan Makcik Khajidah sudah keluar dari bilik, tidak mahu mengganggu 'kasih' antara Furqan dan Thohirah tetapi Furqan meminta Taufiq setia di sebelah Thohirah. Tidak mahu digelar 'perampas' kerana tahu cinta dan kasih Taufiq pada adik perempuannya sangat tebal bahkan terlalu menggunung.

"Panggil Along..." Seru Taufiq pada sepupunya.

Air zam zam yang dibawa Along dirautkan ke wajah Thohirah, pada bibirnya dititiskan air zam zam.

"La ila ha illallah..."

Sehingga azan Zohor berkumandang, Thohirah masih 'tidur' dengan enaknya berteman nadi yang semakin lemah. Tidak lagi membuka matanya, nampak tenang dalam lenanya.

"Tadi, jantungnya terhenti seketika. Adik berhenti bernafas seketika dan kemudian, dia seperti sedang tidur."

Angah keluar, mengambil wuduk dan terus menuju masjid. Biarlah, Furqan ada menemani Thohirah.

Siang... Malam. Sehari, seminggu, sebulan, berlalu.

Thohirah masih lemah namun sudah 'sedar' dari tidurnya. Tahu-tahu sudah menjadi isteri, aduh... ayah kahwinkannya seperti tidak rasa apa-apa. Kata ayah, kalau sudah 1 tahun setengah memendam hati tidak terluah, sudah diluah kalau ditahan-tahan bimbang mabuknya lebih dahsyat dari suami yang kehilangan isteri. Biarlah Furqan merasa 'memiliki' walau hanya untuk sebentar, namun kuasa Allah yang mengatasi segala.

Sudah 2 bulan dari peristiwa penuh kesayuan, Thohirah masih di bumi Tuhan. Walau masih lemah namun senyuman dan bening pandangan matanya begitu membahagiakan.

"1 tahun setengah menyulam cinta, hanya bertemankan surah Yaasin..." Furqan mongomel sendiri.

"Kasihan... Mahu menjadi seperti kekasih Hanzalah tetapi tidak hajat tidak kesampaian." Thohirah tiba-tiba muncul dari tirai dapur
mengusik dengan bersahaja.

"Kerana cinta Yaasin lebih kuat dari cinta kekasih Hanzalah."

***********

Rasanya tak ada ayah yang nak kahwinkan anak perempuan yang sedang tenat dengan seorang pemuda yang mabuk cinta. Tetapi, kalau rela dan tahu kahwin untuk ditinggalkan pun mahu juga... Biarlah... Lebih bersedia untuk menerima hakikat 'isteriku bukan milikku' hanya 'dipinjamkan oleh Kekasih yang Satu' untuk mengepam oksigen iman memasuki rongga pernafasan agar setiap denyut nadi yang berdegup, bersedia untuk 'melepaskan' apa yang dalam 'genggaman'.

Tiada kaitan dengan yang hidup atau yang telah kembali kepada Allah, hanya garapan emosi dan idea juga curahan kasih sayang buat teman-teman yang sedang berjuang sebagai seorang P.E.S.A.K.I.T. moga kekuatan mengiringi, saluti hati dengan keyakinan pada Tuhan. Tenang-tenangkan ripuh yang melanda, moga kemenangan menjadi milik K.I.T.A (",)

Birthday girl, me dedicate lagu Jauhnya Syurga. Enjoy it..! Semoga dengan PERTAMBAHAN usia akan menambahkan lagi ilmu, iman, taqwa juga tawadhuk pada Ilahi. Akak sayang kamu! Tak boleh menasihati kamu agar tidak cengeng bimbang kamu menuntut akak supaya 'tunaikan' kata-kata sebelum menasihati kamu tetapi, hati ini selalu mengharap kamu akan terus berjuang menjadi srikandi mujaddidah. Happy 19th birthday Adik Mucuk! Kamu sudah makin dewasa :)

Akak juga doakan agar adik kuat seperti Thohirah, tetap berjuang sehingga ke denyut nadi terakhir. Bersabarlah atas apa yang berlaku kerana Dia mengetahui apa yang terbaik untuk dirimu, Dia kasihkan dirimu maka Dia hadirkan anugerah tidak ternilai itu kepadamu. Akak adalah Furqan dan adik adalah Thohirah. Akak adalah orang yang akan selalu mengharap kesembuhan buat adik. Adik kena kuat macam Thohirah, mesti kuat! Semoga kekuatan mengiringi srikandi kecil bersemangat besar, dikaulah srikandi teman langkahku :)

Akak sayang kamu!

Read more...

10 February 2010

Mujahid Cinta [1]

[1] : Jadilah Manusia Paling Bahagia

Pada mata yang memandang,
Hulurkan rasa melihat,
Pada hati yang merasa,
Hulurkan rasa mengerti,
Pada akal yang memikir,
Hulurkan rasa memahami,
Pada kalam yang tersurat,
Hulurkan rasa peduli,
Pada kalam yang tersirat,
Hulurkan rasa bersyukur,
Rafa'kan syukur pada Rabbi,
Kurniaan Nya anugerah berharga.


Menguntum senyuman indah dari bibir Muthiah, rasa bahagia membugar dalam hati. Sudahlah ditinggalkan sepi sendirian, dibiarkan tersenyum juga sendirian. Bukankah bersendiri tidak menghadirkan makna bersendirian? Allah masih di sisi bagi mereka yang rasa berTuhan.

"Aku tidak pernah bersendiri... Hidup sebagai pejuang harus selalu berjuang, mujahadah an-nafs."

Tersenyum entah ke sekian kalinya.

"Fighter of one desire!"

Hatinya berlagu riang, penanya ligat menari ke kiri, kanan depan dan belakang.

"Insya Allah."

Kertas berwarna lavender dihias bunga-bunga mawar sebagai latar menjadi semakin sarat dengan pena biru, tulisannya yang terkadang terbuai dengan perasaan sedih, gembira dan semuanya diadunkan sekali hanya di atas kertas lavender.

"Kenapa warna lavender?"

"Sebab Muthiah suka pada damainya, indahnya, cantiknya bunga lavender dan Muthiah suka pada bau lavender..."

"Jangan sampai Muthiah sendiri berbau lavender!" Usik Khaulah, kakak Muthiah.

Hampir siap karangan hatinya, namun cebisan akhirnya menggugurkan air mata. Sayu sungguh menggarap akhirnya, sukar untuk melafazkan bimbang tidak mampu untuk setia dengan ikrar yang dilafazkan.

"Moga Allah hadirkan kekuatan dan semangat berjuang untuk terus mara ke hadapan, untuk deen, untuk ummah."

Rapi sekali Muthiah, dengan pakaian yang sederhana, masakan yang sudah tersedia menanti kepulangan mujahidnya yang menyahut seruan berjuang. Bukankah orang yang paling baik ialah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain? Jadi, haruskah dialirkan dengan air mata atas perpisahan kerana Allah?

"Semoga pulangnya nanti, akan menghiburkan hatinya yang lelah dengan perjalanan panjang..."

.........

"Assalamu'alaikum Kak Muthiah, Fadhil nak guna RM300 untuk sem baru nanti. Tolong Fadhil ya kak."

Sebaris mesej yang masuk ke kantung inboxnya, lalu congakan masih bersisa.

"Insya Allah dik, esok akak masukkan."

Bukan Fadhil yang menghantar mesej, tetapi Umar al-Faruq. Umar merupakan adik Muthiah yang juga sahabat akrab Fadhil. Fadhil anak felda yang mempunyai adik-beradik seramai 11 orang. Anak yang cemerlang seperti Fadhil harus dibantu semoga dia diberi peluang untuk merubah keluarga.

Janji Muthiah pada Umar al-Faruq akan membantu Fadhil selagi mampu. Kewangan itu insya Allah boleh di cari dan diusahakan. Harus didahulukan apa yang lebih menjadi keutamaan.

"Fadhil sudah berpuasa 2 minggu kerana tiada duit, buka puasa hanya beralaskan air kosong dan roti." Cerita Umar al-Faruq 2 tahun lalu membuka mata Muthiah, di saat perut dipenuhi dengan segala nikmat Allah masih ada yang keciciran dari mengecap nikmat kenyang. Astaghfirullah hal azhim.

"Kak, dahulu saya pernah susah hati bila tiada duit. Saya sering berfikir tentang pelbagai perkara, tetapi Allah sentiasa memberi rezeki. Rezeki itu tidak semestinya dengan setimbun wang, rezeki itu tidak dihadirkan dengan kemewahan tetapi apa yang saya perlukan, Allah sentiasa memberi dengan cara Nya supaya saya selalu beringat akan indahnya tawakal pada Allah. Kak janganlah risaukan saya sangat, Umar juga sudah banyak membantu."

Hatinya jadi kagum pada anak muda ini.

"Di saat saya lapar kerana tiada makanan, Allah hadirkan seorang sahabat membawa sebungkus makanan. Di saat saya menangis kelaparan, Allah hadirkan seorang dermawan menghulurkan sekeping wang untuk saya membeli makanan. Rezeki itu sentiasa ada, Allah sentiasa memberi. Buminya ini luas, rezekinya juga luas. Sekarang, saya tidak lagi gusar dan bimbang tentang rezeki saya. Terpulang bagaimana kita mendefinisi perkataan rezeki. Kalau rezeki dianggap sebagai duit, kemewahan dan harta maka itulah defisininya. Kalau kita menganggap apa sahaja yang hadir adalah rezeki, maka itu juga definisinya. Bagi saya, rezeki itu ialah Allah cukupkan apa yang kita perlukan bukan apa yang kita mahukan."

Dialog itu dilontarkan 2 tahun lalu. Selalu Umar al-Faruq menceritakan tentang Fadhil, sehingga membuak rasa ingin tahu dan mengenali Fadhil. Satu hari, selepas istikharah tekad untuk membantu Fadhil kerana dia juga saudaraku, saudara seagama.

"Fadhil, izinkan akak untuk membantu. Akak tidak menuntut balasan dari Fadhil. Akak hanya mahu Fadhil menjadi orang yang boleh memberi manfaat kepada orang lain, akak melihat potensi Fadhil yang cemerlang. Jadi, akak tidak mahu Fadhil kecundang di tengah jalan. Izinkan akak untuk menginfaq sebahagian dari kemampuan akak untuk membantu."

Umar al-Faruq juga turut mengangguk setuju, menyokong kalam Muthiah.

"Fadhil, kak Muthiah bukan mahu apa-apa tetapi dia hanya mahu diberikan peluang untuk memberi. Memberi bukan untuk menerima tetapi kepuasan sendiri bila boleh memberi manfaat kepada orang lain."

Lama bermain 'tarik-tali' akhirnya Fadhil mengalah.

"Jazakillah kak Muthiah. Semoga Allah saja yang dapat membalas kebaikan akak. Saya hanya mampu mendoakan, itu yang saya mampu."

Kuntuman senyuman mekar lagi.

"Alhamdulillah, Allah memberi peluang untukku menjadi manfaat pada anak muda ini. Moga doa-doa Fadhil mendapat tempat di sisi Allah. Doa itulah yang lebih bermakna selain melihat Fadhil menjadi manfaat kepada manusia yang lain, insya Allah."

Read more...

03 February 2010

Warming Up MooD

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah. Dah 2 hari masak lunch lewat. Minggu ini abi tiada di rumah, out station maka ana dengan senang hati menggoyang kaki tangan untuk melewat-lewatkan masak. Selalunya jam 12 tengah hari dah siap masak, tapi memandangkan big bos out station, masak lewat la. Adik sampai rumah sekitar jam 2.30 petang, bisa bersenang lenang. ^_^

Hari ini multi tasking, sambil masak boleh balas e-mail dan juga vacum carpet lalu meng'update' blog. Nampaknya Bani Ali dah suam-suam kuku, selalunya penat dan pening baca email dari Pak Tam lalu dengan tidak sengaja tergelak dan tersenyum seperti kerang busuk. Pak Cik juga sudah memalaskan dirinya untuk update blog kerana sibuk dengan kerja, tengok blogroll yang tak bergerak, ana je lah yang tolong gerakkan. Ngeh ngeh ngeh!

Buat kali yang entah ke berapa my brother pujuk kerja dengan dia. Lalu, dengan suka hatinya cakap.

"Tak risau ke tetiap hari orang 'kidnap' singgit wat beli eskrem?"

"Oh, tak kisah nak amik singgit ke berapa inggit pun, kalau leyh menjawab di Padang Mahsyar, I tak kisah punyee..."

Adeh, hampes jer. Ingatkan dia cakap amik singgit wat beli eskrem tu kira halal, kata adik-beradik. Huhuhu. Memang dia bakal menggajikan ana bukan sebagai orang gaji yang diberikan gaji tetapi digajikan untuk bekerja dengan penuh dedikasi. Huhuhu.

"Susah la nak bagi orang lain jaga akaun, kerja la dengan Abang Cik."

Ana memang cerewat, hoh! Abi pernah memberi RM50 pada ana untuk membeli barang-barang dapur, lalu bakinya diberikan kepada abi sambil me'list'kan apa yang dibeli. Roti berapa hinggit, tepung sekian hinggit, gula 2kg sekian hinggit dan itu ini begitu begini. Last abi ketawa, baru ana sedar ana sedang berurusan dengan makhluk "rabun dekat" yang tak berapa nak ambil pot dengan apa yang ana sedang bebelkan. Ohoooo! Disebabkan tahap 'teliti' dan cerewet yang macam gaban tuh, Abang Cik hingga kini tak putus asa offer ana jadi pekerjanya. Orang sibuk cari kerja, ana lak kerja yang cari tapi ana jual mahal. Huhu.

Ana PERLU memaksa diri mujahadah untuk bercinta dengan Mujahid Cinta, haa... Itu la, semangat kobar-kobar ni kalau ada api dah terbakar kepala dek kerana semangat yang membara. Eceh, gitulah kononnya semangat ana tapi... Ana sememangnya sedang malas yang over cross lalu ana buat derk je untuk Mujahid Cinta. Isk isk, malas la nak bercinta dengan Mujahid Cinta, jadi ana dengan senang hati kena warming up mood ana dulu. Hihihi.

Mujahid Cinta bukannya Cinta Mujahid. 2 perkataan bila diporak-perandakan bakal menjadikan ia maksud yang sama sekali tidak sama. Bukan ana nak menukilkan cinta si Mujahid tetapi ana berusaha bercinta dengan seorang mujahid yang bercinta... cinta itu kan luas skopnya, dengan ibubapa pun memang selayaknya dicintai, dengan pekerjaan, dengan dakwah, dengan kampus, dengan buku dan lain-lain lagi. Lebih-lebih lagi cinta Allah, harus dikejar! Harus dicari! Harus mujahadah!

Tadaaa...! Izinkan patik memanaskan semangat patik yang nak terbakar ni.

*************

Hari ini aku menerima tetamu dari selatan Semenanjung Malaysia. Pak cik Umar Mukhtam dan sahabatnya. Umar Mukhtam sinonim dalam keluargaku, pak cik Umar Mukhtam merupakan sahabat baba dari alam universiti. Semasa baba menyiapkan tesis PhDnya, pak cik Umar Mukhtam sedang menyelesaikan pengajian pada peringkat sarjana muda sehinggalah menyambung pengajian di peringkat sarjana. Sering saja pak cik Umar bertandang ke rumah kami di Glassgow. Baba dan pak cik Umar sangat akrab, ikatan ukhuwah itu dilanjutkan sehingga kembalinya mereka ke tanah air.

Semasa baba pulang ke tanah air, aku masih di Glassgow berjuang sendirian di bidang perubatan. Sepanjang tempoh itu juga, pak cik Umar Mukhtam selalu menjadi 'baba' aku sementelah baba kembali menjadi tenaga pengajar di Universiti Sains Malaysia. Baba mengamanahkan pak cik Umar untuk tengok-tengokkan aku, jauh dari keluarga terkadang buat aku terlupa adanya mata yang tidak mahu aku tergelincir dari garis kehidupan islam.

Aku bersyukur. Allah memimpin dan menjaga aku sepanjang menghabiskan usia pengajian yang tersisa.

"Umar, asam pedas ini doktor yang masak."

Baba sengaja mengusik aku, terkadang aku yang sudah lali dengan makhluk Adam hanya tersenyum. Aku yang dibesarkan di kalangan para mujahid ini sudah terdidik untuk selalu diusik. Aku satu-satunya puteri dan selebihnya adalah putera buah cinta mama dan baba. Sudahnya, aku yang kebal tetapi masih memiliki sifat malu di hadapan lelaki. Kekebalan itu yang membuatkan aku menjadi malu, malu di hadapan lelaki walaupun sudah terbiasa berada di kelompok lelaki. Masakan tidak, aku punya empat orang abang dan tiga adik lelaki. Aku umpama sekuntum bunga di tengah sekumpulan kumbang.

"Doktor, jemput makan sekali."

Usik abang Muhaimin. Aku tersenyum lalu menghilang ke dapur. Aku sudah terbiasa, apabila ada tetamu dikalangan lelaki... Aku tidak mahu berada dalam kelompok mereka, biarlah aku di hujung dunia sekalipun. Hidup dikelilingi lelaki tidak membuatkan aku hilang perasaan malu untuk bersama lelaki ajnabi. Malu masih memagari diri.

...........

"Assalamu'alaikum Doktor Sayyidah. Uncle minta maaf kalau ada yang menyakiti hati doktor."

Ahad lalu, Nusaybah dan Rufaydah mengajak aku ke Konvensyen Belia Islam. Tanpa aku ketahui Pak Cik Umar Mukhtam juga turut sama dalam program. Pak Cik Umar mengajak aku, Nusaybah juga Rufaydah untuk menghadiri majlis ilmu di Gombak selepas maghrib. Antara panel yang turut dalam forum tersebut adalah Ustaz Alias, sahabat pak cik Umar yang datang ke rumah. Setelah selesai majlis ilmu di Gombak, kami bertiga ke rumah sewa Rufaydah untuk bermalam.

Selepas selesai forum, pak cik Umar menghantar SMS memberitahu bahawa Ustaz Alias meminta bantuannya untuk melamar aku. Ya Allah, diamku tak menjawab mesej tersebut. Pak cik Umar juga meminta pandangan aku terlebih dahulu sebelum menyuarakan hasrat Ustaz Alias kepada baba dan mama. Aku dilamar sebagai isteri kedua Ustaz Alias dan isteri Ustaz Alias juga sudah dimaklumi akan perkara ini, beliau juga sudah memberikan keizinan untuk Ustaz Alias berpoligami.

Malamnya, aku duduk merehatkan fikiran. Bagiku, memilih calon suami sama seperti memilih aqidah. Aku akan menjadi 'tawanan' kepada seorang suami, dengan kehidupanku sebagai seorang bakal doktor, pasti banyak waktu ku untuk masyarakat. Peluang cuti musim panas ini aku manfaatkan ziarah sahabat-sahabat disamping mempererat ukhuwah dengan keluarga, namun tidak menjangka ada yang lebih besar, lamaran dari Ustaz Alias.

"Ambillah masa doktor untuk mempertimbangkan. Uncle tidak akan memanjangkan perkara ini kepada baba kalau doktor tidak setuju."

Mesej itu juga turut aku abaikan.

.............

Setelah mengambil masa selama satu minggu, akhirnya aku menjawab mesej dari pak cik Umar Mukhtam.

"Assalamu'alaikum ammu, maaf ya. Saya tak mampu nak menerima lamaran Ustaz Alias, saya mahu habiskan pengajian."

"Wa'alaikumussalam doktor. Alhamdulillah, moga itu terbaik buat doktor. Salam kejayaan buat doktor."

.............

Petang itu, aku luangkan masa bersama Nik Hafizah, seorang teman yang mengambil bidang farmasi di kampus sama. Bertukar cerita cuti musim panas di tanah air, berkongsi pengalaman juga berkongsi resepi masakan.

Jadi anak rantau harus kreatif, tatkala rindukan masakan Malaysia... tidak semua resepi lengkap dengan bahan-bahan masakan, kreativiti akan menghasilkan lauk yang tersendiri.

Sejenak kemudian, mama menghantar SMS untuk aku segera menalifon mama. Pulang dari riadhah, aku segera menalifon mama.

Setelah bertanya khabar dan bertukar cerita, mama memulakan tujuan asalnya menyuruh aku menalifon.

"Sayyidah, 2 hari lepas uncle Umar datang."

Debar hatiku menantikan kalam mama yang seterusnya. Apakah pak cik Umar Mukhtam mahu memberitahu perihal lamaran Ustaz Alias? Bukankah pak cik Umar sudah berjanji tidak akan memanjangkan perkara ini sekiranya aku tidak bersetuju. Diam. Menanti kata-kata mama yang seterusnya.

"Iya mama, kenapa?"

"Uncle Umar ada cakap apa-apa pada Sayyidah?"

"Mengenai apa mama?"

"Lamaran."

Seperti halilintar yang menyambar. Panas telinga, merah muka, degup jantung terhenti seketika.

"Lamaran siapa mama?"

"Lamaran uncle Umar."

"Ha?"

"Uncle Umar melamar Sayyidah untuk menjadi isterinya. Dan, mama beri Sayyidah waktu untuk berfikir. Istikharah, semoga Allah membantu. Mama dan baba tidak kisah dengan apa juga keputusannya nanti, istikharahlah."

Allahuakbar. Pak cik Umar Mukhtam melamar aku untuknya? Aku sangkakan pak cik Umar mewakili pihak Ustaz Alias. Banyak perkara yang tidak dijangka hadir secara tiba-tiba.

Seingatku, selepas memberikan jawapan penolakan lamaran Ustaz Alias, sempat aku mengusik pak cik Umar Mukhtam.

"Uncle kahwin dulu... Suruh saya kahwin tapi uncle sendiri belum. Macammana uncle nak suruh orang buat sesuatu kalau uncle sendiri belum lakukan?"

Aku sangkakan usikan itu tidak membekas, rupanya satu sejarah terlakar. Tuhan selalu menghadirkan ujian yang kita mampu lalui, Allah berikan tarbiyyah dengan cara Nya sendiri. Kalau kita sangkakan hikmah itu adalah keindahan, keenakan dan kesejukan dunia... Maka teruslah berangan-angan kerana hakikatnya hikmah itu kebaikan dari Allah dengan cara dan kehendak Nya, bukan cara dan kehendak kita.

**********

Apa la melalut ni... Kesian Sayyidah, stuck lagi. Hihihi.

Okeh la, rendang pun sudah siap. Rendang daging ku merah semacam, wawawa... Sure pedas ni. Tak tahu dah berapa sudu gula yang dimasukkan tetap juga pedas. Emh, cili kering yang keras akan menatijahkan kepedasan yang juga 'keras'. Semoga ana tidak mengeras semasa makan rendang. Uhuks...!

Read more...

30 December 2009

Catatan Hati Fatinah [10]


Siri Sepuluh : Ujian Itu Tarbiyyah.

Setiap manusia yang hidup di muka bumi pasti pernah, sedang mahupun bakal berdepan dengan ujian Tuhan. Itu lumrah, hidup ini memang perlu di uji dan kita selayaknya di uji oleh Allah kerana kita adalah hamba. Hanya hamba.

Bila kita semakin berusaha untuk mendekati jalan Ilahi, semakin kuat pula ujian yang datang. Aku juga tidak terlepas, terkadang aku mahu sahaja terus melangkah dengan penuh gagah tetapi Allah juga yang lebih mengetahui. Kata mama, Allah sengaja menguji bagi melihat sejauh mana kesungguhan seorang hamba itu melakukan apa yang sepatutnya dia lakukan. Apabila kita mengaku beriman, bukanlah kita beriman selagi kita belum membuktikan keimanan kita. Dengan ujian, kita akan diukur darjah keimanan oleh Allah azza wa jalla. Tidak orang lain, hanya Allah.

"Sesungguhnya Kami menciptakan manusia sebaik-baiknya"

"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya (neraka)"

"Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putus"

(Surah At-Tiin : Ayat 4-6)

Ada ketikanya, kita terasa jauh dari Allah. Bukan Allah melupakan kita, tetapi kita sendiri yang menzalimi diri. Dengan rahmat Allah jua, Dia menitipkan taufiq Nya buat kita. Tersedar dari lena yang panjang, kita bangun kembali menghamparkan sejadah menghadap kaabah. Tetapi, semakin bahtera diri diusahakan menuju ke jalan cinta Nya, semakin besar pula gelombang yang datang.

Duhai hati yang hina, usah sesekali meminta diberikan ujian oleh Allah sebaliknya pintalah kekuatan apabila berdepan dengan ujian Allah.

Tidak Allah bebankan seorang hamba itu selain mengikut kesanggupannya. Satu wadah tasawuf yang sering aku ingatkan pada hati yang hina ini, 'Allah yang beri ujian, biarlah Dia memujuk dengan cara dan kehendak Nya.' Benar, aku selalu terpujuk bahkan terasa damai andai hatiku bisa berlagu riang tatkala badainya menghampas pantai. Apakah perlu aku menangis sendu andai satu ujian itu hanyalah tarbiyyah dari Allah? Itu jalan dari Nya, supaya aku semakin memperkemas doa dan rentak tariku, supaya aku lebih gagah dari sebelum ini.

Duhai hati yang hina, apakah akan terasa manisnya hidup andai selalu dibuai dengan nikmat berpanjangan tanpa merasa sedikit kekurangan? Pasti kaku, statik dan tidak membina roh perjuangan andai segalanya tersedia indah, cantik dan hebat. Ujian itu mematangkan, akal yang sempit akan diluaskan untuk menyelesaikan kerumitan hidup. Ah... Hidup bukanlah seindah mimpi, tidak secantik metafora bumi. Tetapi, hidup itu menjadi indah apabila nikmat itu disyukuri dan ujian itu menjadi medan muhasabah diri. Hiduplah dengan jiwa seorang hamba yang merasa dirinya sebagai hamba.

"Bukankah Allah Hakim seadil-adilnya?"

(Surah At-Tiin : Ayat 8)

Iya, Allah sajalah yang selayaknya menghakimi diri kita dan semua. Bila melihat kesalahan insan lain, tilik dahulu diri kita. Usah terlalu menghukum, sebaliknya muhasabah diri kembali. Bawa hati pada Allah, biar Allah sahaja yang selayaknya memberikan keadilan buat kita dan mereka juga semua.

Kata-Kata Ibarat Pedang


Ada pujangga yang menganggap kata-kata itu setajam pedang, sebenarnya lebih tajam dari tusukan pedang. Masakan tidak, tusukan tajam pedang pada badan hanya parut terkesan tetapi tusukan kata-kata yang tajam mampu membuat hati menjadi rawan, segala gerak kerja seakan tidak berjalan.

Kata madah pujangga,
Bisa menjadi pedoman manusia,
Kata-kata yang berhikmah,
Menyedarkan kita.

Selalu aku mendengar lantunan lembut suara Nafisah menyanyi lagu dari Kumpulan In-team. Gemar sekali aku mencedok hikmah dari lagunya, bukan dari rentaknya yang adakala bisa membuat aku terbuai-buai. Hidup perlu satu realiti, kurangkan angan-angan, besarkan impian dan mulakan langkah untuk melaksanakan pelan rancangan!

"Tak payah la nak berceramah di sini, kau ingat kau bagus sangat ke? Sudah-sudah la, kubur bukan sekali. Kubur kau, kau jaga. Kubur aku, aku yang jaga sendiri."

Terkedu aku mendengarnya. Walau kata-kata itu tidak ditujukan untuk aku, tetapi aku pula yang terlebih merasa pedihnya. Sabarnya sahabat di sebelahku ini.

"Apa kau ingat kau belajar pasal agama sikit dah layak nak bagi ceramah?"

Allahuakbar, apakah benar ini yang telingaku dengar. Astaghfirullah hal azhim. Bukankah yang mengucapkan kalimah itu seorang saudaraku, saudara seakidah. Saudara yang sama-sama mengucap kalimah syahadah.

"Bukan saya nak berceramah, saya hanya mengingatkan. Kita sama-sama saudara seagama, seakidah. Benar kubur itu masing-masing, tetapi saya tak mahu kerana awak... Saya tersiksa di kubur." Nadanya bergetar, masih pada suhu rendah. Tenang sekali sahabatku ini.

"Kenapa pula kau nak tersiksa pasal aku? Ahhh, berambuslah!"

Astaghfirullah hal azhim.

"Adik, benar kata Kak Nafisah ni. Kita saudara seagama. Seakidah. Sama-sama mengucap kalimah syahadah. Kita seharusnya saling menasihati, Allah juga mengingatkan kita dalam Surah Al-Asr supaya kita saling mengingatkan tentang kebenaran juga tentang kesabaran."

"Ahhh... Diamlah. Kau pun sama, berambus!"

Astaghfirullah hal azhim.

Pasti hancur luluh hati ibubapanya andai tahu keadaan anak mereka ini.

"Kita sesama muslim, harus ada yang menegur apabila tersalah. Adik pernah terfikir tentang mak ayah adik? Adik pernah berfikir apa yang akan mereka rasa kalau tahu keadaan adik sekarang?"

Aku cuba bertolaransi, Nafisah disisi masih tenang walau sudah terlalu banyak dihujani makian. Sepasang suami isteri yang sedang menyiapkan tesis PhD juga kami maklumi, agar sama-sama membantu adik ini. Mungkin masih dalam perjalanan, kami usahakan untuk mencari satu titik bagi meredakan ketegangan. Tak pernah aku berhadapan situasi ini sepanjang hidup, setiap kata dibalasi dengan makian. Allahuakbar.

"Apa yang aku buat tak ada kena mengena dengan kau, kenapa kau nak sibuk? Lantak la mak bapak aku, kau peduli apa?"

Sekali lagi tajamnya bahasa seorang wanita timur yang dikenali penuh kelembutan dan kaya dengan adab kesopanan.

"Adik, bawalah mengucap." Nafisah terus memujuk sambil membelai belakangnya.

"La ilaha illallah...." Aku terus berusaha mendamaikan hatinya, sambil lidah menenteramkan amuk seorang adik, hatiku berdoa moga Allah beri kekuatan buat kami. Setiap saat aku rasakan seperti sungguh lambat.

Hampir 40 minit kami tidak bertikam lidah, hanya menyebut asma' Ilahi akhirnya tenggelam dalam esak tangis tak berhenti.

Ustazah Humairah dan Ustaz Miftah juga sudah tiba setelah 15 minit menanti, kami hanya berdiam di sisi dan terus membiarkan Ustazah Humairah memujuk Nurul.

Lebih 3 jam Ustazah Humairah memberikan nasihat dan motivasi, Nurul semakin reda. Tidak lagi memaki hamun kami yang berada di situ. Nurul tergelincir dari laluannya, dia terjebak dengan cinta yang membenihkan janin. Si lelaki bajingan itu tidak mahu bertanggungjawab, parahnya lagi kandungan kali ini adalah kali ke-5! Kandungan sebelum ini semuanya digugurkan dan kali ini, kandungannya sudah 4 bulan. Tidak boleh digugurkan kali kerana rahimnya sudah 4 kali berdepan proses pengguguran.

Allahuakbar.

Tidak kami ketahui perkara ini sehingga teman serumah Nurul yang juga junior Nafisah meminta bantuan Nafisah. Nurul hampir sahaja mahu membunuh diri. Sudah suku botol ubat tidur ditelannya. Aku bersyukur, Ustazah Humairah dan Ustaz Miftah sudi membantu.

Apabila keadaan Nurul sudah reda, Ustazah Humairah membawanya ke rumah tidak lain bagi mengisi kembali roh Nurul yang sudah kering oleh hangatnya kota metropolitan ini. Ustazah Humairah juga sebenarnya Mak Su kepada Nafisah. Aku dan Nafisah juga berjanji akan selalu ziarah Nurul di rumah Ustazah Humairah, tidak lain... Hanya kerana cinta dan kasih sayang buat saudara seakidah.

"Ish, orang macam tu pun nak tolong ke? Dia dah rosak..."

Sindiran dari seorang teman buat aku dan Nafisah sebak. Nurul juga manusia biasa, manusia yang tidak lepas dari melakukan kesilapan. Dia terjebak dengan kuasa cinta dusta, dan Allah juga yang akan menghukumnya, bukan kita. Apabila kita menuding satu jari mengatakan kesalahan seseorang, baki empat jari lagi dibalikkan kepada kita! Kita juga bersalah kerana tidak membawa dia kepada Islam!

Ini hanya kisah terbesar pada aku sepanjang permusafiran di Kota Metropolitan. Salji di musim sejuk, matahari di musim panas, kelopak bunga mekar di musim bunga, pokok dogol di musim luruh. Semuanya ada cerita yang ku simpan dalam hati, sebagai catatan seorang hamba Allah yang mahu merasa luasnya rahmat Allah.

"Sebanyak mana dosa yang kita lakukan, pengampunan Allah jauh lebih besar."

Nafisah menyedarkan 'sang da'ei' yang hebat itu. Biarlah menangis kerana kesilapan daripada tersenyum bangga kerana ibadah yang tidak seberapa, mungkin tiada nilai di sisi Tuhan. Sedarlah... Bawa hatimu berjalan dengan jiwa seorang hamba yang berhajat kepada Tuhannya.

"Nafisah, ana nak tanya satu soalan... Boleh?"

Bicara suatu petang sambil mata melihat burung merpati yang enak memakan bijian.

"Nak tanya apa Cik Durrah Fatinah?" Nafisah tergelak kecil sambil menutup mulutnya.

"Macammana enti boleh relax je masa kena sembur dengan Nurul? Ana tengok enti sabar je." Aku menghadiahkan senyuman.

"Dari sebuah pengalaman...." Nafisah mengenyit mata, tiba-tiba suram hati kami disegarkan dengan keceriaan. Iya, sama-sama berusaha mencipta keceriaan. Kami perlukan suntikan untuk terus bersemangat.

"Iya lah, kongsikan dengan ana." Aku cuba bertolaransi, Nafisah suka bersimpang-siur bicaranya, lambat mencapai titik utama.

"Ini metaforanya. Ingat ye, sampai bila-bila tau!" Nafisah terus makan sisa aiskrim. Aduh, makan aiskrim di musim sejuk adalah kegemaran Nafisah.

"Insya Allah." Aku menggenggam erat jemari Nafisah. Ya Allah, ikatkan hati kami pada Mu.

"Di suatu tempat tertentu apabila berlaku kemarau yang amat dahsyat, banyak binatang yang akan mati. Binatang-binatang yang hidup di kawasan tersebut kena berjuang bersungguh-sungguh untuk teruskan hidup, dengan pelbagai cara. Apabila kemarau dah berakhir, banyak binatang-binatang masih survive mengalami perubahan genetik.

Bila kemarau berlaku lagi sekali, mereka lebih kuat menghadapinya kerana tubuh mereka sudah mengalami 'mutasi' yang menyebabkan mereka lebih 'kuat'. Contoh lain, bila kita gunakan racun perosak di kebun, kebanyakan serangga akan mati. Tapi, lama-lama sebahagian serangga akan mengalami mutasi dan hanya yang resistant dengan racun tu boleh survive.

Macam itu juga la manusia kan Fatinah, makin kuat bila di uji, makin dekat pada Tuhan bila dikeji!"


Kaki kami sama-sama memijak hujung rumput yang dibalut dengan sisa salji. Sungguh berhikmah kata-kata Nafisah. Manusia juga boleh 'mutasi' dan kebal dengan keadaan sekeliling apabila mereka sentiasa berusaha keras untuk terus melangkah gagah walaupun selalu dihujani dengan ujian.

Ujian itu tarbiyyah! Sabar itu satu keindahan, insya Allah.


"Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu nikmat yang banyak"

"Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu dan berkorbanlah"

"Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus"

(Surah Al-Kautsar : Ayat 1-3)

Terima kasih ya Allah.

... fatinah ...

Read more...

28 December 2009

Catatan Hati Fatinah [9]


Siri Sembilan : Warkah Buat Sahabat

Sahabatku,

Tatkala relung hati terbuka, terkenang kembali memori lama yang tercipta. Ada kala kita ketawa riang, tersenyum simpul, beramah mesra dan saling beriringan. Ada kala ujian Nya datang menghampiri bagi mengukuhkan keutuhan ukhuwah kita. Dia sengaja memberikan semilir angin yang mendamaikan, Dia sengaja mengaturkan onak berduri untuk kita sama-sama redahi.

Sahabatku,

Semilir angin, onak berduri dan segala kenangan yang pernah kita lalui... Aku selalu teringat akan ikrar kita, "Berjuang kerana Allah, berakhlaq sebagai penuntut ilmu." Ramai yang bertanya dan tertanya, harus mengapa kita laungkan bersama untuk berakhlaq sebagai penuntut ilmu.

Sahabatku,

Aku masih teringat akan senyuman manismu, santun pekertimu dan lembut katamu pada hatiku...

"Bagaimana akan mendapat ilmu yang berkat dan bermanfaat andai pekerti tidak seperti orang yang ingin menadah ilmu? Bagaimana ilmu akan mudah diingati dan dizahirkan dengan akhlaq andai hati belum lurus kepada Ilahi? Kita berjuang kerana Allah, kalah dan menang bukan debatnya tetapi jalan berliku yang membawa kepada Tuhan akan digagahi walau kudrat badan tidak segagah pahlawan agung, kita tetap berusaha menjadi srikandi. Impian yang besar pada usaha yang sangat kecil, tetapi itu lebih baik dari hanya berimpian tanpa ada usaha untuk mencapainya."

Aduh, betapa hati ini terbuka akan nasihat keimanan darimu. Benar, hidup mati ini untuk Allah, apakah akan tersimpan setiap duka andai biasan bahagia menanti di hadapan? Andai mereka menangis kerana gagal di dunia, kita tetap menangis di dunia kerana gagal menjadi contoh kepada yang lain, gagal membawa mereka kepada Islam yang mulia.

Sahabatku,

Alirkanlah air mata... Biarlah kering air mata kita di dunia ini, aku harapkan kita sama-sama akan beriringan tangan di alam abadi kelak, kita sama-sama tersenyum dan ceria. Hidup ini hanya satu permusafiran, sama ada jambatan itu kukuh, roboh atau berlopak di sana-sini... Kitalah yang akan menjadi arkitek dan kontraktor pada jambatan hidup kita.

Sahabatku,

Telah Allah berikan jalan untuk kita, diberikan Islam sebagai agama kita, diberikan Rasulullah s.a.w. sebagai qudwah kita, apakah kita masih teraba-raba di lorong sepi bagai hilang punca dan tenggelam arah tuju?

Sahabatku,

Aku harapkan kita akan terus berpegang tangan, sama-sama beriringan menuju Khaliq. Saat air mata menitis kerana tak terbendung perasaan cinta dan rindu pada dirimu yang jauh dari mataku, segera aku memujuk sekeping hati agar segera tunduk pada Ilahi.

Sahabatku,

Kata orang bercinta, biar jauh di mata tetapi tetap di hati. Andai rindu menggigit sukma, pandanglah pada sang rembulan di malam hari kerana bulan itu hanya satu dan di mana juga kita berada, kita tetap memandang bulan yang satu.

Kata orang berkasih, biar jauh di mata tetapi hadir dalam doa. Andai dilanda rindu dendam, segera memandang langit yang luas agar terasa keluasan rahmat Tuhan, mudah-mudah Allah yang Maha Pemurah itu segera mengaturkan pertemuan.

Kata orang saling menyayang, biar jauh di mata tetapi tetap diingati walau ke alam mimpi. Andai terasa sayangnya meluap-luap, pandanglah ke tanah agar segera mengingati mati, mudah-mudahan ingatan pada kematian akan melenyapkan keripuhan hati yang melanda.

Tetapi, pesan aku padamu wahai sahabat yang teramat, amat, amat aku sayangi... Andai di hatiku atau hatimu terdetik rasa yang tak mampu diluahkan dengan kata-kata... Aku tidak mampu berkata apa-apa kerana dirimu terlalu istimewa. Aku tak mampu meluah rasa sekeping hatiku pada dirimu wahai sahabat.

Aku hanya mampu memujuk hati.

Jauhmu dariku adalah kerana Allah.
Sepimu dariku adalah kerana kesibukan seharianmu sebagai penuntut ilmu.
Senyapmu adalah kerana jadualmu padat sebagai pejuang agama Allah.
Diammu adalah kerana dirimu dikelilingi sahabat-sahabat yang soleh solehah.

Dan aku hanya terdaya meminta dan terus meminta dari Allah agar sentiasa memelihara sahabat yang aku cintai ini dengan sebaik-baik penjagaan. Kerana, hatiku selalu yakin bahawa tiada penjaga yang lebih hebat jagaannya selain dari Allah yang Esa. Hatiku terpujuk, jiwaku menunduk, perasaanku terduduk...

Sekeping hati ini aku berikan pada Allah, lantunan doa buat sahabat yang sentiasa hadir setiap sujud terakhir dalam solatku.

Sahabatku,

Di saat mereka memandang rembulan, melempar pandangan pada keluasan langit, menjatuhkan hati memandang debu tanah yang berhembus perlahan... Aku tidak mampu menutup rasa hatiku, kerana kita sebenarnya punya KIBLAT YANG SATU. Hanya itu yang mampu mendamaikan ripuh gelora kalbuku saat merindui dirimu wahai sahabatku.

Sahabatku,

Walau di mana dirimu berada, apakah di utara selatan timur mahupun barat... Aku selalu mendoakan kesejahteraan buatmu hatta diriku tidak lagi beriringan di sisimu. Kita tetap bersama, dalam doa dan sujud saat memandang kiblat yang satu.


Yang menyayangimu,
Durrah Fatinah

Aku layangkan pesanan hatiku pada e-mail, aku gambarkan perasaan sepiku pada sahabat... Andai dia mengerti rasa hatiku. Aku tidak mengharap balasan kasih darinya, cukuplah di hatiku terus menyayangi dirinya yang teramat istimewa! Insya Allah.

... fatinah ...

** Ana titipkan juga cebisan hati ini buat sahibah yang dirindui, sodiki hakiki yang disayangi juga belahan jiwa yang tak tersebut di sini (ramai sungguh belahan jiwa sepi ini), cukuplah kalian memahami tanpa perlu di beritahu untuk siapa dan kepada siapa. Moga madah dari HATI ini akan sampai ke dalam HATI insan-insan yang ana maksudkan. Allahu Rabbi... Maafkan diri yang serba kekurangan ini wahai sahabat-sahabatku!

Read more...

27 December 2009

Catatan Hati Fatinah [8]


Siri Lapan : Nur Hijrah

"Perjalanan hidup ini baru bermula. Ia masih jauh dan terlalu lama untuk sampai ke penghujungnya. Terlalu banyak kesabaran dan pengertian yang dituntut. Moga kita ditetapkan iman dan ditabahkan hati agar perjalanan ini berakhir dengan keredhaan yang diimpikan. Salam Hijrah buat adinda tersayang - Kak Long."

Alhamdulillah, Kak Long sentiasa mengirimkan khabar dan tidak lupa menitipkan pesan buat aku. Lama-lama sekali, Kak Long akan bercerita panjang tentang semua yang aku rindui terutama bingkisan hati dari mama dan abah buat aku. Ada masanya, aku terasa ingin segera terbang ke pangkuan mama tetapi aku masih ingat akan kata-kata mama, berjuang kerana Allah. Jadi, aku teruskan juga perjalanan ini walau ada masanya langkah ku sumbang tariannya.

"Assalamu'alaikum, malam nanti jangan lupa bawa buku Bawa Hatimu Kepada Tuhan, akak nak pinjam. - Kak Maimunah"

Hampir aku terlupa janjiku pada Kak Mai, segera menyimpan buku istimewa ke dalam beg galas. Malam ini aku dan Nafisah akan menginap di rumah Kak Mai kerana suaminya keluar kota. Awalnya, aku mengajak Kak Mai dan anak-anaknya tidur di rumah kami tetapi Kak Mai terlebih dahulu mengharap kami menginap di rumahnya.

"Assalamu'alaikum. Kak Fatinah jangan lupa malam ni kita bicara tentang hijrah! Buat homework dan pastikan jangan tertinggal lagi buku yang akak janjikan tu. - Zulaikha"

SMS demi SMS itu aku baca kembali, bimbang tertinggal apa yang dipesan. Aku berjanji untuk meminjamkan buku berjudul 'Tabarruj' kepada Zulaikha. Alhamdulillah, setelah lama berdampingan dengan Zulaikha, kini beliau sudah mampu memakai tudung melepasi dada. Biarpun ada kalanya Zulaikha berfesyen tetapi tidak lagi seperti dahulu. Allah Maha Besar. Dia yang menggerakkan hati Zulaikha untuk berubah. Bukan Kak Mai, bukan juga Nafisah apatah lagi aku yang kerdil ini.

Kadang-kadang aku jadi seperti kedai buku bergerak, aku mudah mendapatkan buku-buku dari Malaysia kerana Abang Ngah sering saja mengirim buku dari teman-temannya di Malaysia. Kak Ngah juga seorang yang sangat gemar membaca buku, jadi aku sekadar mengirim atas nama mereka.

Atas perjanjian seminggu yang lalu untuk sama-sama bercerita tentang hijrah bersama pada sahabat, aku mengimbau memori kata-kata abah sewaktu sedang enak bermain congkak bersama mama dibawah pohon mangga. Di atas pangkin tempat aku selalu bermain masak-masak, di situ jugalah tempat abah selalu bercerita. Sebelum aku terbang ke bumi metropolitan ini, sempat abah menitipkan pelbagai nasihat iman dan juga harapan abah pada aku supaya perjalanan aku di sini tidak hanya mengemis ilmu tetapi aku akan turut mengumpul pengalaman dan menyuntik semangat juang yang tinggi.

'Jauh perjalanan luas pengetahuan.'

"Setiap hari mesti betulkan niat, apa saja yang nak dilakukan moga lebih baik dari hari semalam. Setiap kali melakukan sesuatu, niatkan kerana Allah. Biar saja kesukaran dan getir mendapat sesuatu tetapi sekiranya itu saja jalan demi mardhatillah, teruskan melangkah dan jangan sesekali melihat ke belakang." Abah menitipkan pesan.


Tangan mama yang masih bermain congkak dengan anak bongsunya sebelum aku terbang di langit biru, sesekali terlihat mata mama bergenang.


"Iya Achik kena jaga diri baik-baik, sejauh mana pun pergi ingat Islam itu bukan hanya pada nama saja. Jaga maruah sebagai muslimah, jangan sesekali terikut dengan budaya tak sihat." Mama menyambung untaian kata abah.

Aku mengangguk. Diam dan terus mendengar.

Bila lagi aku akan mendengar kalam nasihat ini setelah menjejakkan kaki ke bumi London. Apakah aku akan mendengarnya dengan selembut bayu angin di bawah pokok mangga? Aku semakin rasa betapa sukarnya berpisah dengan mereka.


"Islam ini bukan hanya mengubati, tetapi terlebih dahulu Islam mencegah. Sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah adalah demi kebaikan untuk hamba Nya. Kadang kala kita merasa sangat sukar mengikut undang-undang Allah tetapi kita bimbang apabila gagal mengikut undang-undang manusia sedangkan undang-undang manusia itu hanyalah digubal oleh seorang makhluk yang juga hamba Allah.

Lelaki dan perempuan ajnabi tidak boleh bergaul mesra, kenapa Allah melarang perkara tersebut? Kerana dari pergaulan itu akan membibitkan perasaan dan rasa cinta, sekiranya cinta itu tidak diletakkan pada tempatnya... Seakan kita sedang menyediakan satu lompatan ke dalam jurang gaung. Sengaja kita memerangkap diri untuk terjerumus ke dalam lembah yang menyesatkan.


Sebelum Allah menetapkan hukuman pada penzina, Allah terlebih dahulu melarang kita dari mendekatkan diri kepada hal-hal yang mendekatkan kepada zina. Sesetengah orang menghantar anak ke sekolah agama kerana anak itu nakal dan sangat degil. Ada pula yang menghantar anak ke sekolah tahfiz kerana anak itu sangat sukar di bentuk, sering saja memberontak.

Achik nampak kenapa? Manusia hanya teringat akan agamanya (islam) apabila mendepani masalah. Bila anak-anak itu bermasalah, gejala rempit, bohsia, bohjan dan pelbagai masalah lain maka anak-anak itu dihantar ke 'rumah agama' untuk memperbaiki mereka. Bukan Islam tidak mengambil peduli pada mereka tetapi kenapa kita selaku hamba tidak mematuhi undang-undang Allah dari awal.

Kalau sekiranya dari awal kita menjaga hak Allah, menjauhi segala larangan Allah dan tetap berpegang teguh dengan syariat Allah, tidaklah kita perlu bekerja keras membanting tulang untuk 'memperbaiki' anak-anak ini. Ada ibubapa yang tidak mendapat pendidikan agama terus-menerus menyalahkan kedua ibubapa mereka, mereka tidak mahu berhijrah mendalami agama tetapi menjadikan anak-anak mereka turut sama menjadi mangsa.


Allah beri kita akal untuk kita berfikir. Abah tak nak anak-anak abah hanyut, walaupun awalnya abah rasa berat hati nak melepaskan Achik tapi bila abah muhasabah semula. Sebenarnya kita adalah apa yang kita anggap. Sekiranya kita memandang sesuatu yang positif, insya Allah kita akan berubah untuk menjadi positif. Ianya hanyalah mind set kita. Kalau kita hanya berfikir tentang perkara negatif, masakan ia tiba-tiba menjadi positif.


Bila berjauhan dari keluarga, jangan sekali-kali merasa bebas dari ibubapa sebaliknya Achik kena ingat Allah sentiasa memerhati gerak geri Achik. Walau mama dan abah tak boleh nak tegur dan larang bila Achik buat salah tapi Achik kena ingat Allah nampak apa yang Achik buat, sentiasa berwaspada dan merasa bahawa Allah selalu menjaga Achik.

Bila abah muhasabah, abah yakin insya Allah Achik merantau mencari ilmu demi Allah, jadi tak ada apa yang abah nak bimbangkan. Abah akan selalu doakan anak-anak abah, abah serahkan Achik di bawah jagaan Allah. Mungkin penghijrahan Achik ke London akan memberi Achik satu pengalaman yang sangat bermakna, proses tarbiyyah Allah yang akan buat Achik lebih bersyukur, lebih dekat pada Allah.

Bila jauh dari mama, jauh dari abah... Bila Achik ada masalah, jangan dilepaskan masalah dengan melakukan sesuatu yang Allah larang. Bila disapa badai ujian, segeralah berwuduk dan menghamparkan sejadah. Tadah tangan mohon Allah luaskan jalan untuk Achik mencari penyelesaian, ingat...! Achik sentiasa ada Allah. Anggap saja setiap hari Achik berhijrah menjadi hamba yang lebih baik. Berusahalah... Achik adalah amanah Allah pada abah, dan abah mengamanahkan Achik untuk sentiasa menjaga diri.


Biar kita di tohmah, biar kita di keji selagi Islam itu di julang dalam hati dan di amalkan dengan zahir. Insya Allah, Allah akan selalu membantu kita."


Tanpa sedar, tangan aku kaku... Panjang nasihat iman dari abah buat aku, aku mengangguk lemah. Sebagai hamba Allah, aku tidak lepas dari 'penyakit' kelupaan yang menimpa diri. Islam bukan hanya untuk membaiki 'kerosakan' tetapi Islam adalah cara hidup, semoga tahun baru hijrah akan buat aku lebih bersemangat untuk berubah. Sinar hijrah semakin terang terasa.

Semangat hijrah itu tidak hanya ketika menyambut tahun baru hijrah, semangat hijrah bukan hanya digembur tatkala bertukar kalender dan tahun, semangat hijrah itu sentiasa perlu diperbaharui kerana setiap hari kita semakin menghampiri titik noktah kehidupan ini.

Dalam menempuh ranjau sang perantau, aku dihadiahkan Allah dengan teman-teman yang sentiasa mengajak aku muhasabah kembali. Apakah jalan ku ini sudah cukup untukku atau adakah aku perlu koreksi diri dan berhijrah? Terima kasih ya Allah.



Ya Allah, peliharalah diriku juga sahabat-sahabatku serta seluruh kaum kerabat dan para muslimin muslimat... Jadikanlah kami hamba-hamba Mu yang selalu bersyukur atas nikmat Mu, bersabar atas ujian Mu. Allahumma ameen.

... fatinah ...

Read more...

Silent Home

Silent Home
Bila emosi mengunci hati, lalu lahirlah ayat-ayat sepi sebuah monologku merentasi perjalanan menuju Rabbi :)

aSkiNg sOuL

Feeling alone?
Innallahha ma’ana

Saw evil act?
Inni akhafullah

Wishing something?
Fa’iza ’azamta fatawakkal’alallah

Missing somebody?
Ma fi qalbi ghairullah.

Halwa Telinga

... syukran ...

Free Hit Counter Syukran 'ala ziarah ^_~

  © Template Lar Doce Lar por Emporium Digital Graphics Jenny's Grandchild and Irene's Corner

TOPO